Latest Entries »

Maksud

Saya mengangkat tema spongebob bermaksud untuk tidak melupakan spongebob karena spongebob adalah kartun kesukaanku oleh sebab itu agar saya bisa teringat dan tidak melupakan spongebob

Tujuan

Saya mengangkat tema spongebob bertujuan untuk ,karena spongebob selalu ceria maka yang saya harapkan adalah orang yang melihat karya ini agar orang itu selalu ceria seperti spongebob

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

nama   :vas bunga

ukuran:25cm

dekorasi:letoh

tehnik:pilin +pinch

cara pembuatan

1   butlah alas yg berbentuk bundar terlebih dahulu

2  kemudian buat pilin

3    lalu letakan di alas

4  kemudian pijid hingga meninggi

membuat keramik

.
Membuat Keramik

Membuat keramik memerlukan teknik-teknik yang khusus dan unik. Hal ini berkaitan dengan sifat tanah liat yang plastis dimana diperlukan ketrampilan tertentu dalam pengolahan maupun penanganannya. Membuat keramik berbeda dengan membuat kerajinan kayu, logam, maupun yang lainnya. Proses membuat keramik adalah rangkaian proses yang panjang yang didalamnya terdapat tahapan-tahapan kritis. Kritis, karena tahapan ini paling beresiko terhadap kegagalan. Tahapan proses dalam membuat keramik saling berkaitan antara satu dengan lainnya. Proses awal yang dikerjakan dengan baik, akan menghasilkan produk yang baik juga. Demikian sebaliknya, kesalahan di tahapan awal proses akan mengasilkan produk yang kurang baik juga.

Tahap-tahap membuat keramik
Ada beberapa tahapan proses yang harus dilakukan untuk membuat suatu produk keramik, yaitu:
1. Pengolahan bahan
Tujuan pengolahan bahan ini adalah untuk mengolah bahan baku dari berbagai material yang belum siap pakai menjadi badan keramik plastis yang telah siap pakai. Pengolahan bahan dapat dilakukan dengan metode basah maupun kering, dengan cara manual ataupun masinal. Didalam pengolahan bahan ini ada proses-proses tertentu yang harus dilakukan antara lain pengurangan ukuran butir, penyaringan, pencampuran, pengadukan (mixing), dan pengurangan kadar air. Pengurangan ukuran butir dapat dilakukan dengan penumbukan atau penggilingan dengan ballmill. Penyaringan dimaksudkan untuk memisahkan material dengan ukuran yang tidak seragam. Ukuran butir biasanya menggunakan ukuran mesh. Ukuran yang lazim digunakan adalah 60 – 100 mesh.

Pencampuran dan pengadukan bertujuan untuk mendapatkan campuran bahan yang homogen/seragam. Pengadukan dapat dilakukan dengan cara manual maupun masinal dengan blunger maupun mixer.

Pengurangan kadar air dilakukan pada proses basah, dimana hasil campuran bahan yang berwujud lumpur dilakukan proses lanjutan, yaitu pengentalan untuk mengurangi jumlah air yang terkandung sehingga menjadi badan keramik plastis. Proses ini dapat dilakukan dengan diangin-anginkan diatas meja gips atau dilakukan dengan alat filterpress.

Tahap terakhir adalah pengulian. Pengulian dimaksudkan untuk menghomogenkan massa badan tanah liat dan membebaskan gelembung-gelembung udara yang mungkin terjebak. Massa badan keramik yang telah diuli, disimpan dalam wadah tertutup, kemudian diperam agar didapatkan keplastisan yang maksimal.

2. Pembentukan
Tahap pembentukan adalah tahap mengubah bongkahan badan tanah liat plastis menjadi benda-benda yang dikehendaki. Ada tiga keteknikan utama dalam membentuk benda keramik: pembentukan tangan langsung (handbuilding), teknik putar (throwing), dan teknik cetak (casting).

Pembetukan tangan langsung
Dalam membuat keramik dengan teknik pembentukan tangan langsung, ada beberapa metode yang dikenal selama ini: teknik pijit (pinching), teknik pilin (coiling), dan teknik lempeng (slabbing).

Pembentukan dengan teknik putar
Pembentukan dengan teknik putar adalah keteknikan yang paling mendasar dan merupakan kekhasan dalam kerajinan keramik. Karena kekhasannya tersebut, sehingga keteknikan ini menjadi semacam icon dalam bidang keramik. Dibandingkan dengan keteknikan yang lain, teknik ini mempunyai tingkat kesulitan yang paling tinggi. Seseorang tidak begitu saja langsung bisa membuat benda keramik begitu mencobanya. Diperlukan waktu yang tidak sebentar untuk melatih jari-jari agar terbentuk ’feeling’ dalam membentuk sebuah benda keramik. Keramik dibentuk diatas sebuah meja dengan kepala putaran yang berputar. Benda yang dapat dibuat dengan keteknikan ini adalah benda-benda yang berbentuk dasar silinder: misalnya piring, mangkok, vas, guci dan lain-lain. Alat utama yang digunakan adalah alat putar (meja putar). Meja putar dapat berupa alat putar manual mapupun alat putar masinal yang digerakkan dengan listrik.

Secara singkat tahap-tahap pembentukan dalam teknik putar adalah: centering (pemusatan), coning (pengerucutan), forming (pembentukan), rising (membuat ketinggian benda), refining the contour (merapikan).

Pembentukan dengan teknik cetak
Dalam keteknikan ini, produk keramik tidak dibentuk secara langsung dengan tangan; tetapi menggunakan bantuan cetakan/mold yang dibuat dari gipsum. Teknik cetak dapat dilakukan dengan 2 cara: cetak padat dan cetak tuang (slip). Pada teknik cetak padat bahan baku yang digunakan adalah badan tanah liat plastis sedangkan pada teknik cetak tuang bahan yang digunakan berupa badan tanah liat slip/lumpur. Keunggulan dari teknik cetak ini adalah benda yang diproduksi mempunyai bentuk dan ukuran yang sama persis. Berbeda dengan teknik putar atau pembentukan langsung,

3. Pengeringan
Setelah benda keramik selesai dibentuk, maka tahap selanjutnya adalah pengeringan. Tujuan utama dari tahap ini adalah untuk menghilangkan air plastis yang terikat pada badan keramik. Ketika badan keramik plastis dikeringkan akan terjadi 3 proses penting: (1) Air pada lapisan antarpartikel lempung mendifusi ke permukaan, menguap, sampai akhirnya partikel-partikel saling bersentuhan dan penyusutan berhenti; (2) Air dalam pori hilang tanpa terjadi susut; dan (3) air yang terserap pada permukaan partikel hilang. Tahap-tahap ini menerangkan mengapa harus dilakukan proses pengeringan secara lambat untuk menghindari retak/cracking terlebih pada tahap 1 (Norton, 1975/1976). Proses yang terlalu cepat akan mengakibatkan keretakkan dikarenakan hilangnya air secara tiba-tiba tanpa diimbangi penataan partikel tanah liat secara sempurna, yang mengakibatkan penyusutan mendadak.

Untuk menghindari pengeringan yang terlalu cepat, pada tahap awal benda keramik diangin-anginkan pada suhu kamar. Setelah tidak terjadi penyusutan, pengeringan dengan sinar matahari langsung atau mesin pengering dapat dilakukan.

4. Pembakaran
Pembakaran merupakan inti dari pembuatan keramik dimana proses ini mengubah massa yang rapuh menjadi massa yang padat, keras, dan kuat. Pembakaran dilakukan dalam sebuah tungku/furnace suhu tinggi. Ada beberapa parameter yang mempengaruhi hasil pembakaran: suhu sintering/matang, atmosfer tungku dan tentu saja mineral yang terlibat (Magetti, 1982). Selama pembakaran, badan keramik mengalami beberapa reaksi-reaksi penting, hilang/muncul fase-fase mineral, dan hilang berat (weight loss). Secara umum tahap-tahap pembakaran maupun kondisi api furnace dapat dirinci dalam tabel.

Pembakaran biskuit
Pembakaran biskuit merupakan tahap yang sangat penting karena melalui pembakaran ini suatu benda dapat disebut sebagai keramik. Biskuit (bisque) merupakan suatu istilah untuk menyebut benda keramik yang telah dibakar pada kisaran suhu 700 – 1000oC. Pembakaran biskuit sudah cukup membuat suatu benda menjadi kuat, keras, kedap air. Untuk benda-benda keramik berglasir, pembakaran biskuit merupakan tahap awal agar benda yang akan diglasir cukup kuat dan mampu menyerap glasir secara optimal.

5. Pengglasiran
Pengglasiran merupakan tahap yang dilakukan sebelum dilakukan pembakaran glasir. Benda keramik biskuit dilapisi glasir dengan cara dicelup, dituang, disemprot, atau dikuas. Untuk benda-benda kecil-sedang pelapisan glasir dilakukan dengan cara dicelup dan dituang; untuk benda-benda yang besar pelapisan dilakukan dengan penyemprotan. Fungsi glasir pada produk keramik adalah untuk menambah keindahan, supaya lebih kedap air, dan menambahkan efek-efek tertentu sesuai keinginan.

Kesemua proses dalam pembuatan keramik akan menentukan produk yang dihasilkan. Oleh karena itu kecermatan dalam melakukan tahapan demi tahapan sangat diperlukan untuk menghasilkan produk yang memuaskan.

membakar keramik

situs pembelajaran kriya keramik #1 di Indonesia….
Monday, February 23, 2009
Tungku Keramik

Tungku pembakaran atau kiln adalah suatu tempat/ruangan dari batu bata tahan api yang dapat dipanaskan dengan bahan bakar atau listrik dan dipergunakan untuk membakar benda-benda keramik.

Fungsi tungku pembakaran adalah untuk membakar benda-benda keramik yang disusun di dalamnya dan dibakar dengan menggunakan bahan bakar khusus (kayu, batu bara, minyak, gas, atau listrik) sampai semua panas menyebar dan membakar semua yang ada di dalam tungku itu. Pembakaran atau radiasi panas berlangsung di dalam tungku atau di bawah ruang bakar dan kelebihan asap keluar melalui saluran api atau cerobong tungku. Sirkulasi panas harus dibiarkan secara merata dan bebas di sekeliling benda pada saat dibakar.

Saat ini berbagai jenis tungku pembakaran dapat dijumpai baik di sentra-sentra kerajinan keramik (gerabah), studio keramik, maupun industri keramik. Penggunaan jenis tungku pembakaran yang digunakan sudah tentu dengan melihat beberapa faktor. Beberapa faktor penting yang harus dipertimbangkan dalam memilih atau merancang tungku pembakaran keramik ialah:

a. Jenis tungku.

Yang dimaksudkan dengan jenis tungku adalah sirkulasi api/jalannya api, bentuk tungku, ukuran/ kapasitas. bahan yanq digunakan.

b. Kapasitas tungku pembakaran

Kapasitas erat kaitannya antara produktivitas dengan volume tungku (ruang pembakaran), sehingga perlu dipikirkan seberap ukuran tungku pembakaran yang harus dibuat.

c. Suhu akhir yang ingin dicapai,

Dalam merancang tungku pembakaran perlu mengetahui jenis badan benda keramik yang akan dibakar, sehingga bahan baku untuk pembuatan tungku juga menyesuaikan. Untuk efisiensi dipilih tungku pembakaran yanga dapat mencapai suhu tinggi.

d. Kondisi pembakaran yang diinginkan

Kondisi pembakaran yang akan dicapai untuk pembakaran jenis oksidasi, reduksi, atau netral harus ditetapkan guna menentukan bentuk ruang bakar, alat pembakar (burner) dan damper.

e. Jenis barang yang akan dibakar

Bahan tanah liat keramik yang dibakar dapat dibedakan menjadi terracotta/earthenware, stoneware atau porselin oleh sebab itu kita perlu menentukan jenis tungku, ukuran, dan bahan bakar yang akan digunakan.

f. Jenis bahan bakar

Jenis bahan bakar yang akan digunakan perlu mempertimbangkan kondisi lingkungan, apakah dengan kayu, minyak, gas, batu bara, atau listrik.

g. Lokasi tungku

Lokasi pembuatan tungku harus memperhatikan kondisi lingkunqan, di dalarn kota, pinggiran, halaman pabrik, garasi, dll.

h. Ukuran plat/shelves

Ukuran plat tahan api juga harus diperhitunqkan untuk disesuaikan dengan ukuran plat yang telah ada karena yang ada di pasaran ukurannya terbatas.

Berbagai macam tungku pembakaran yang dapat digunakan banyak jenisnya mulai dari yang sederhana hingga yang paling modern, sejalan dengan perjalanan waktu. Penggolongan jenis tungku dapat dibedakan berdasarkan bentuk, mode operasi, kontak panas, pemakaian nama penemunya, sirkulasi api, dan bahan bakar yang digunakan.

Tungku pembakaran dapat diklasifikasikan sebagai berikut menurut bahan bakar, aliran panas/ sirkulasi api, bentuk, kontak panas, cara operasi/proses pembakaran, pemakaian, dan penemunya. Namun dari berbagai klasifikasi tersebut hanya akan dijelaskan sebagian saja.

a. Klasifikasi Tungku menurut Bahan Bakarnya

Bahan apapun yang dapat terbakar dapat digunakan untuk membakar keramik, tetapi sejak dulu pembakaran mempergunakan kayu dan batu bara, sedangkan pada perkembangan terakhir pembakaran menggunakan minyak dan gas. Sekarang sumber panas yang baru untuk pembakaran keramik ialah listrik.

Jenis tungku berdasarkan bahan bakar (sumber panas) yang digunakan dapat digolongkan menjadi lima macam, yaitu:

1). Tungku bahan bakar gas

Tungku pembakaran keramik dengan bahan bakar gas saat ini dirasakan relatlf Iebih murah dan mudah dibandingkan dengan tungku lainnya. Dengan menggunakan tungku gas maka kondisi pembakaran netral, oksidasi atau reduksi dapat dengan mudah dicapai, dengan mengatur gas, saluran udara primer dan damper.

2). Tungku listrik,

Tungku listrik merupakan alat pembakaran benda keramik dengan menggunakan tenaga listrik. Tenaga listrik tersebut diubah menjadi tenaga panas dan tenaga panas inilah yang akan mematangakan badan tanah liat menjadi keramik. Pembakaran dengan tungku listrik merupakan cara pembakaran yang paling mudah dan efisien karena dalam tungku listrik biasanya telah dilengkapi perlengkapan kontrol yang memadai, seperti saklar/tombol penyala yang sekaligus berfungsi sebagai regulator (pengatur energi listrik), program pembakaran (waktu maupun suhu pembakaran), thermocouple-pyrometer sebagai penunjuk suhu bakar.

3). Tungku bahan bakar padat (kayu, batu bara),

Tungku pembakaran keramik dengan bahan bakar kayu merupakan cara pembakaran tradisional yang sederhana. Salah satu pembakaran sederhana yaitu pembakaran sistem ladang. Cara ini dilakukan di ladang terbuka dengan menggunakan bahan bakar jerami, kayu, serbuk gergaji atau bahan yang mudah terbakar lainnya. Jenis ini merupakan salah satu cara pembakaran keramik yang paling tua. Saat ini tungku tradisional yang paling banyak dijumpai adalah tungku bak terbuka yang banyak digunakan oleh perajin.

4). Tungku bahan bakar minyak,

Tungku pembakaran benda keramik menggunakan bahan bakar minyak tanah biasanya dilakukan dengan tungku catenary. Pembakaran dengan tungku catenary lebih rumit dari pada tungku bak terbuka, untuk mengoperasikan jenis tungku ini diperlukan pengalaman.

Tungku jenis ini memerlukan alat untuk pengapian (burner) yang didesain secara khusus biasanya dilengkapi dengan alat penghembus udara (blower), pada tungku dengan bahan minyak tanah ini tekanan minyak sangat diperlukan sehingga penempatan drum atau tanqki minyak harus dletakkan pada tempat yang cukup tinggi sehingga denqan gaya gravitasi bumi minyak dapat mengalir apabila kran dibuka.

Secara umum cara kerja kompor pembakar adalah untuk menghasilkan panas dengan merubah minyak menjadi gas dengan bantuan udara baik alami (sekitar) maupun udara dari blower sehingga mudah terbakar.

Dikirim oleh Studio Keramik di 5:03 PM
Label: Pembakaran

Membuat Keramik dengan Teknik Pilin

Salah satu keteknikan membuat keramik dengan tangan langsung adalah teknik pilin. Sesuai namanya maka keramik dibuat dari susunan pilinan-pilinan yang disambung. Ketebalan pilinan yang digunakan disesuaikan dengan ketebalan benda yang akan dibuat. Benda keramik yang dibuat dengan teknik pilin dapat diujudkan dalam karakter aslinya yang menampakkan pilinan atau permukaannya dihaluskan sehingga kesan pilinan tidak kelihatan. Hal yang penting untuk diperhatikan adalah ketika menyambung pilinan, permukaan pilinan yang akan disambung hendakknya dibasahi dengan air atau ‘dilem’ memakai lumpur tanah liat. Agar lebih kuat, akan lebih baik apabila permukaan yang akan disambung diberi goresan lebih dahulu. Berikut ini langkah langkah membuat benda dengan teknik pilin.

1. Membuat pilinan dengan alas meja kerja atau tangan lamgsung.

2. Alas benda dapat dibuat dengan pilinan atau lempengan tanah liat.

3. Menghaluskan alas benda

4. Memasang dan menyambung pilinan dengan alas.

5. Menghaluskan permukaan benda

6. Menghaluskan keseluruhan permukaan

7. Benda siap dikeringkan.

Tahap Mengglasir


Tahap pertama adalah mencampur bahan-bahan glasir berdasarkan resep glasir yang ada. Komposisi glasir sering dinyatakan dalam resep dan formula. Resep glasir adalah komposisi dimana kita tinggal mencampur bahan-bahan tersebut berdasarkan persentase massa/berat. Bila komposisi glasir dinyatakan dalam formula, maka kita harus mengubah formula tersebut ke resep glasir. Ini memerlukan pengetahuan hitung glasir. Peralatan utama yang dipakai adalah timbangan yang tepat.


Setelah campuran didapatkan langkah selanjutnya adalah menggiling dalam keadaan basah menggunakan jarmill. Ini dimaksudkan agar bahan-bahan yang masih kasar menjadi halus. Air yang ditambahkan antara 0,8 – 1,5 bagian dari padatan.


Setelah penggilingan selesai, maka dilakukan penyaringan glasir menggunakn ukuran mesh 100-120. Tujuannya adalah untuk memperolah butiran glasir halus yang terpisah dari butiran kasar yang mungkin masih ada.


Yang terakhir adalah melapiskan glasir tersebut ke benda keramik dengan teknik semprot, teknik celup, atau kuas; tergantung jenis bendanya. Untuk benda-benda besar/lebar lebih baik menggunakan teknik semprot; sedangkan untuk benda-benda kecil/sedang berongga seperti cangkir mangkok akan lebih baik glasirnya bila menggunakn teknik celup.

gerabah pundong

Gerabah Pundong

Artefak aneka bentuk gerabah yang fungsional maupun berupa ragam hias banyak diketemukan sebagai bagian penemuan arkeologis. Sejarah memang mencatat ketrampilan membuat gerabah telah menjadi bagian perkembangan peradaban bangsa-bangsa di nusantara. Jejak historisnya pun masih jelas terwariskan hingga masa kini.

Menurut kajian arkeologis, keahlian membuat keramik jenis gerabah atau tembikar di nusantara baru dikenal di masa bercocok tanam. Siklus cocok tanam yang menyisakan waktu luang cukup panjang bagi para petani memberikan kesempatan bagi mereka untuk mengembangkan keahlian ini. Jenis gerabah yang dihasilkan kebanyakan berupa peralatan rumah tangga.

Akan tetapi baru pada masa perundagian karya-karya gerabah mulai berkembang luas, tidak lagi sekedar menjadi bagian peralatan rumah tangga, tapi telah pula menjadi bagian perangkat sosial, ritual keagamaan, ekspresi seni bahkan lambang status sosial. Dari artefak tembikar yang ditemukan di situs Trowulan, lokasi bekas kerajaan Majapahit yang berjaya serentang abad ke 13-15 M, diketahui bahwa saat itu produk tanah liat selain berbentuk perangkat rumah tangga, ada pula yang dimanfaatkan untuk perangkat ritual dan karya seni. Seniman-seniman tembikar masa inilah yang diyakini mengembangkan tehnik cungkil, tusuk, gores, tempel dan tekan, yang masih dikenal hingga kini.

Bolehlah jika kemudian kita menyimpulkan keahlian membuat gerabah adalah salah satu bentuk pewarisan tertua yang masih bertahan hingga sekarang. Sentra-sentra industri gerabah pun masih tersebar di banyak daerah, beberapa yang terkenal saat ini antara lain Banten; Panjunan, Cirebon; Pleret, Purwakarta; Klampok, Banjarnegara; Slawi, Tegal; Mayong, Jepara; Pagerjurang, Bayat, Klaten; Kasongan, Yogyakarta ; Malo, Bojonegoro dan Lombok di Nusa Tenggara Barat. Di luar nama-nama besar tersebut, di Yogyakarta masih ada satu tempat lagi yang layak disebut dalam “peta gerabah”, yakni Dusun Jetis, Kecamatan Pundong.

Turun temurun
Dusun Jetis, Panjangrejo, terletak di kecamatan Pundong, Bantul, sekitar 20 kilometer arah selatan kota Yogyakarta. Di kecamatan Pundong terdapat beberapa dusun lain yang kini tumbuh menjadi sentra industri gerabah, namun Jetis memiliki keunikan tersendiri. Di Jetis kita bisa menyaksikan gerabah dalam bentuk paling tradisional, yakni bentuk-bentuk dasar yang fungsional, semisal periuk, belanga, wajan, kendhi, genthong air dan cobek. Tehnik produksinya pun masih sama seperti yang dipakai moyang mereka beberapa generasi sebelumnya.

Namun, sebagaimana kecenderungan yang berlangsung di sentra kerajinan gerabah lainnya, permintaan pasar mendorong perajin untuk memproduksi bentuk-bentuk baru. Misalnya saja kap lampu, panel-panel keramik, asbak, celengan, ataupun aneka bentuk hiasan berbahan tanah liat. Bahkan tak jarang bentuk atau desain yang sama sekali baru juga dibuat berdasar pesanan. Tetapi bila tidak ada pesanan, para perajin akan kembali memproduksi barang-barang gerabah untuk kebutuhan rumah tangga.

Seperti halnya sebagian besar penduduk Kecamatan Pundong lainnya, sebetulnya mata pencaharian utama penduduk Jetis adalah bertani. Profesi sebagai pembuat gerabah hanyalah pekerjaan sambilan saja. “Membuat gerabah sebenarnya profesi sambilan turun temurun. Moyang kami sejak dahulu terkenal sebagai pembuat gerabah seperti genthong, kuali dan kendhi”, tutur Pak Dasilan, perajin gerabah yang memiliki tempat produksi terbesar di Jetis.

Tiga puluh tahun lalu, jenis produk maupun lingkup pasar mereka masih sangat sederhana dan terbatas di sekitar Pundong saja. Akan tetapi sejak tahun 1974, pekerjaan sambilan tadi mulai mendapat sentuhan perhatian dari pemerintah desa setempat. Beberapa warga diminta untuk pelatihan pengembangan industri gerabah, yang kemudian ditindak lanjuti dengan bantuan pemasaran produk mereka melalui KUD Panjangrejo. Namun pelatihan yang intensif dan komprehensif baru dilakukan pada tahun 1990-an oleh Departemen Perindustrian DIY dan lembaga-lembaga terkait.

Sederhana
Salah satu keunikan yang masih bisa disaksikan di Jetis adalah cara pembuatan gerabah yang masih memakai tehnik putar, salah satu tehnik dasar tradisional yang sudah dikenal sejak ratusan tahun lalu. Peralatan utamanya adalah perbot atau meja putar yang terbuat dari kayu, sedangkan proses pembakaran masih dilakukan dengan tungku terbuka yang terbuat dari susunan batu-bata. Kayu bakar sebagai bahan bakar selain diperoleh dari daerah sekitar juga didatangkan dari Purworejo.

Tanah liat sebagai bahan dasar biasanya didatangkan dari daerah Godean, Kabupaten Sleman, yang dianggap berkualitas cukup bagus. “Harga tanah liat satu colt rata-rata Rp. 175.000,00,” terang Pak Dasilan. Rata-rata tanah liat sebanyak itu mencukupi untuk produksi selama satu bulan, kecuali ada pesanan dalam jumlah besar.

Selain produk gerabah untuk kebutuhan rumah tangga, perajin desa Jetis juga memproduksi gerabah atau keramik berukuran kecil. Biasanya produk tersebut dibuat berdasar permintaan pemesan yang membawa desain atau sample sendiri. Pak Dasilan mengakui pengrajin keramik Jetis belum mempu mebuat desain sendiri, maupun juga melakukan finishing (pewarnaan) sendiri. “Kalaupun ada yang mencoba melakukan finishing sendiri, hasilnya masih jauh dari memuaskan,” lanjut bapak tiga anak ini.

Kondisi tersebut membuat harga per-item relatif murah, dari Rp. 300,00 sampai termahal Rp. 25.000,00. Jenis produk antara lain tempat lilin, koin-koin tanah liat, asbak, kap lampu dan panel-panel hias, yang biasanya dijadikan cinderamata atau hiasan interior.

Lemah pemasaran
Menurut Pak Dasilan, salah satu kelemahan perajin di Jetis adalah penguasaan pasar secara mandiri. Selama ini pemasaran produk kerajinan gerabah Jetis masih menumpang pada pemilik kios di Kasongan, sentra industri gerabah yang berjarak sekitar 20 kilometer dari Jetis. Itu pun kebanyakan dibuat berdasar pesanan. Selain pesanan dari sesama perajin atau eksportir di Kasongan, pesanan juga datang dalam jumlah kecil untuk souvenir pernikahan atau acara lainnya.

“Untuk pemasaran ke luar daerah kami belum mampu. Selain kemampuan produksi belum mencukupi, kami juga masih belajar teknis pemasaran,” ungkap pak dasilan menambahkan. “Karena itu kami seakarang sering mengikuti ajang pameran produk di berbagai daerah.”

Berbagai upaya pengembangan pun telah dilakukan, diantaranya dengan membentuk Paguyuban Siti Kencana. Kini anggota paguyuban itu mencapai 35 orang perajin, yang semuanya memiliki unit usaha sendiri yang rata-rata mempekerjakan 3-5 orang. “Dengan jumlah tenaga yang terbatas, maka kemampuan produksi kami juga tidak seberapa,” ujar Pak Barowi, ketua Paguyuban Siti Kencana. Menurutnya pernah ada pesanan gerabah dalam jumlah besar dari Korea Selatan, namun karena jangka waktu pemesanannya relatif pendek transaksi tersebut batal tercekal.

Sektor industri ini menyerap banyak tenaga kerja dari dusun Jetis dan beberapa dusun tetangga, sehingga praktis tidak ada pengangguran di Jetis. Dua tahun belakangan ini, berkat promosi yang dilakukan, diantaranya dengan mengikuti pameran-pameran, dusun Jetis muai tersohor sebagai sentra gerabah baru. Kini dalam satu bulan setidaknya ada tiga atau empat kali kunjungan tamu dari luar daerah untuk melakukan studi banding, atau kunjungan wisata, semisal dari DPRD Bontang dan pejabat-pejabat Dinas Perindustrian Kabupaten Jayawijaya.

Alat Pembentukan Keramik

Jenis dan fungsieralatan untuk pembentukan benda keramik dapat dikelompokkan menjadi alat bantu, alat pokok, perlengkapan, dan peralatan keselamatan kesehatan kerja. Peralatan tersebut digunakan untuk kelancaran proses pembentukan benda keramik dengan berbagai keteknikan, teknik pijit (pinching), teknik pilin (coiling), teknik lempeng (slab building), teknik putar
(throwing), dan teknik cetak (mold).
Butsir kawat (wire modelling tools) : Untuk merapikan, menghaluskan, mengerok, membentuk detail, dan membuat tekstur benda kerja. Ukuran panjang 22 cm, bahan kawat stainless steel, tangkai kayu sawo.
Butsir kayu (wood modelling tools): Untuk menghaluskan, membentuk detail, merapikan, membuat dekorasi, merapikan dan menghaluskan benda kerja. Ukuran panjang 22 cm lebar 3 cm, bahan kayu sawo.
Ribbon tools: Untuk mengerok, menghaluskan, dan merapikan benda kerja. Ukuran panjang total 15 cm, bahan stainlesss steel, tangkai kayu.
Kawat pemotong (wire cutter): Untuk memotong ujung bibir, dasar benda kerja, dan memotong tanah liat plastis. Ukuran: panjang 4 cm, panjangtangkai 6 cm, bahan kawat stainless steel.
Potter rib/throwing ribs/rubber palletes/steel palletes: Untuk menghaluskan dan membentuk permukaan luar benda kerja.Ukuran: 10 x 6 cm, tebal 0,4 cm, bahan: kayu, plat stainless, karet.
Spon (sponges): Untuk menyerap kandungan air, menghaluskan benda kerja, dan membersihkan handtool, cetakan gips pada waktu pencucian. Ukuran: diameter 8 cm dan tebal 6 cm, bahan busa.
Sponge stick: Untuk menghaluskan bagian dalam benda kerja. Ukuran: panjang total 35 cm, diameter spon 2,5 cm.
Jarum (needles): Untuk memotong bibir, menusuk gelembung udara, dan menggores benda kerja.Ukuran: panjang total 14 cm, mata jarum 4 cm.
Throwing stick: Untuk membentuk, menghaluskan, merapikan bagian dalam benda keramik. Ukuran: panjang 35 cm, bahan kayu.
Kaliper (caliper): Untuk mengukur diameter benda kerja. Ukuran: panjang 20 cm, 25 cm, dan 30 cm, bahan alumunium, plastik atau kayu.
Rol kayu: Untuk membuat lempengan tanah, dengan panjang rol kurang lebih 45 cm dan diameter 6 cm–8 cm dan dilengkapi dengan bilah kayu yang panjangnya 50 cm dan tebal 0,5 cm-0,7 cm dan lebar sekitar 3 cm.

Sejarah Keramik di Indonesia – (2)
Jaman Penjajahan Belanda
Teknologi pembuatan keramik dapat dikatakan mulai berkembang dengan didirikannya Laboratorium Keramik atau “Het Keramische Laboratorium” pada tahun 1922 di Bandung. Fungsi utama laboratorium ini sebagai pusat penelitian bahan bangunan seperti bata, genteng, saluran air dan sebagainya yang terbuat dari tanah liat. Selain itu mengembangkan juga
teknologi glasir untuk barang gerabah halus yang disebut dengan ‘aardewerk’. Bahan glasir didatangkan dari Belanda. Selanjutnya di Plered Purwakarta didirikan sebuah pabrik keramik dengan dilengkap alat-alat produksi masinal untuk mengolah bahan tanah liat. Pabrik ini berfungsi sebagi induk yang memberikan bimbingan dalam pembuatan bahan bangunan dan gerabah halus berglasir kepada para perajin setempat. Pabrik keramik di Pleret yang dimaksudkan sebagai pusat penyuluhan di Jawa barat terpaksa gulung tikar. Sedangkan pusat induknya di Bandung hidupnya masih belum menentu keberadaannya. Tetapi walaupun dengan
pemasukan teknologi impor ini, keramik Indonesia belum mengalami kemajuan yang pesat. Pusat penyuluhan bidang keramik sasarannya pada kehidupan gerabah pedesaan saja. Masyarakat kota belum banyak mengenal keramik bakaran tinggi pada masa itu, dan lebih suka
menggunakan barang impor dari negeri China atau Eropa.

Jaman Pendudukan Tentara Jepang
Dengan masuknya tentara Jepang , pabrik keramik di Bandung telah diubah namanya menjadi “Toki Shinkenjo”. Laboratorium ini berfungsi sebagai balai penelitian yang meneliti dan mengembangkan serta memproduksi barang-barang keramik dengan suhu bakar tinggi. Produknya antara lain: bata tahan api, botol sake, dan sebagainya. Barang-barang tersebut dibuat untuk keperluan bala tentara Jepang di Indonesia.

Jaman Pemerintah Republik Indonesia
Sejak pemerintahan dipegang pemerintah republik Indonesia, maka “Toki Shinkenjo” berubah nama menjadi Balai Penyelidikan Keramik (BPK), dalam operasionalnya dilengkapi dengan alat-alat pengujian dan alat-alat produksi yang lebih modern. Fungsi dan tugas BPK semakin berkembang, tidak hanya berporduksi barang-barang keramik, gelas, isolator listrik tetapi juga
aktif melakukan kegiatan penelitian barang-barang mentah keramik hasil temuan bahan keramik di beberapa tempat. Dengan diketemukannya bahan-bahan mentah yang melimpah seperti kaolin, felspard, kwarsa dan sebagainya. maka sejak tahaun 1960-an bermunculan pabrik-pabrik keramik dibebebrapa kota. Produknya pun bermacam-macam seperti produk gerabah, stoneware dan porselin, jenis produksinya antara lain peralatan makan dan minum, benda hias, barang tahan api, bata tahan api, alat-alat teknik, gips, email, dan keramik bahan
bangunan. Sekitar tahun 1969 BPK mencoba mengembangkan apa yang disebut dengan keramik ‘biru putih’ yaitu imitasi keramik China yang pembakarannya pada suhu 1300 derajat celcius. Dengan diperkenalkanya produk ala China ini maka banyak perusahaan lain di kota Bandung memproduksinya; seperti pabrik keramik di Kiara Condong, pabrik keramik Tanah Agung di kota Malang, serta pabrik keramik di Plered-Purwakarta. Produk keramik dengan corak biru putih tersebut ternyata banyak penggemarnya. Pada masa Pelita ke dua munculah harapan-harapan baru untuk penggunaan benda keramik di hotel-hotel di Jakarta dan di kota-kota lain.
Benda keramik tersebut berupa peralatan makan, hiasan dan tempat bunga. Kemudian berlanjut ke masyarakat kota yang mulai terbiasa menggunakan benda-benda keramik dan sedikit demi sedikit munculah keinginan benda tersebut sebagai kebutuhan rumah tangga.
Kehidupan dunia keramik mulai bangkit dan tumbuhnya perusahaan kecil dan menengah yang bergerak dibidang keramik seperti terdapat di Bandung, Plered-Purwokweto, Klampok, Bayat-Klaten, Malang, Yogyakarta dan lainnya daerah di luar Jawa. Dengan perjalanan waktu, dan dengan adanya pendidikan tinggi seni rupa seperti ITB Bandung, ASRI (ISI) Yogyakarta, ASTI (ISI) Surakarta dan universitas lainnya mulai menelurkan seniman akademisi keramik yang turut menghidupkan dunia keramik saat ini. Namun, ditengah kemajuan industri keramik dunia, industri keramik Indonesia belum mengalami kemajuan yang signifikan walaupun kemajuan dalam bidang keramik ini sudah menjadi tuntutan pasar. Hal ini disebabkan karena sarana dan prasarana, berupa alat-alat untuk mengembangkan industri keramik itu termasuk mahal. Selain
itu teknologi yang adapun sulit didapat. Sebab bahan-bahan untuk keramik maju harus bahan yang lebih murni. Tetapi usaha-usaha untuk mengembangkan industri keramik, berupa penelitian-penelitian tetap dilakukan, kegiatan seperti ini telah menjadi kegiatan rutin seperti Balai Besar Keramik di Bandung, juga kegiatan-kegiatan pengembangan desain untuk benda keramik di industri seperti di Sango Semarang, industri keramik di Tangerang dan di industri lainnya. Dari hasil pembinaan dan bimbingan dari pemerintah dan pihak terkait, baik produktivitas dan variasi bentuk juga pengalaman perajin semakin meningkat. Perkembangan dari bentuk produk keramik yang masih melekat ciri khas dari masing-masing daerah semakin menarik dan memperkaya hasil budaya bangsa. Perkembangan dunia pariwisata yang makin maju memberikan dampak yang sangat bagus bagi perkembangan keramik.
Putaran Miring di Pager Jurang (http://3.bp.blogspot.com/_a2hCS_xcKCc/Sv0Dk0mQoiI/AAAAAAAAAEM/fzraSjKlwrQ/S700/u.jpg)

Dengan dicanangkannya desa wisata seperti: di desa Pager Jurang-Bayat
Klaten, desa Kasongan-Bantul, Klampok-Banjarnegara, Banyumulek- Lombok semakin meningkatkan produktivitas dan kualitas juga pemasaran produk keramik yang semakin berkembang hingga kini.

Keramik Klampok (http://community.kompas.com/photo/image/keramik1.jpg)

(Sumber: Kriya Keramik, Depdiknas. Wahyu Gatot Budiyanto, dkk)
Dikirim oleh Studio Keramik di 6:57 PM 1 komentar Link ke posting ini
Label: Ilmu Keramik
Sejarah Keramik di Indonesia – (1)
Di Indonesia, keramik sudah dikenal sejak jaman Neolithikum, diperkirakan rentang waktunya mulai dari 2500 SM–1000 SM. Peninggalan zaman ini diperkirakan banyak dipengaruhi oleh para imigran dari Asia Tenggara berupa: pengetahuan tentang kelautan, pertanian dan peternakan. Alat-alat berupa gerabah dan alat pembuat pakaian kulit kayu. Kebutuhan manusia
dalam kehidupan sehari-hari selalu mengalami perubahan sesuai perkembangan zaman. Awalnya manusia membuat alat bantu untuk kebutuhan hidupnya, mulai dari membuat kapak dari batu. Seperti di Sumatra ditemukan pecahan-pecahan periuk belanga di Bukit Kulit Kerang.
Meskipun pecahan tembikar tersebut kecil dan berkeping-keping namun telah terlihat adanya bukti nyata membuat wadah dari tanah liat. Teknik pembuatannya dilakukan dengan tangan, dan untuk memadatkan serta menghaluskan digunakan benda keras seperti papan. Cara menghias dilakukan dengan menekankan sebuah kayu berukir, atau menekan tali, anyaman bambu, duri ikan, dan sebagainya, pada permukaan keramik (mentah) setelah selesai pembentukan. Cara seperti ini paling banyak dilakukan oleh perajin tradisional di berbagai daerah di pelosok tanah air. Di pantai selatan Jawa tepatnya diantara Yogyakarta dan Pacitan
ditemukan pecahan tembikar yang berhiaskan teraan anyaman atau tenunan seperti hasil tenun yang di buat di Sumba. Di daerah Melolo (P. Sumba) ditemukan pula periuk belanga yang berisikan tulang-tulang manusia. Peninggalan-peninggalan prasejarah ini juga ditemukan didaerah Banyuwangi, Kelapa Dua-Bogor, Kalumpang serta Minanga di Sulawesi, Gilimanuk di Bali dan juga penemuan pada waktu peninggalan arkeologis di sekitar candi Borobudur dan di Trowulan-Mojokerto. Termasuk juga peninggalan zaman Kerajaan Majapahit (abad 16 M) banyak di temukan bata-bata dan genteng dari tanah liat yang dibakar sebagai bahan bangunan, namun juga benda-benda seperti celengan. Pecahan-pecahan tembikar juga ditemukan di situs Batujaya, di Karawang Jawa Barat. Ditemukan juga fragmen yang terbuat dari terracotta. Sesuai penandaaan maka tembikar-tembikar ini ada pada abad ke 3 atau 4 masehi. Gambar tembikar juga terdapat pada relief hiasan bangunan, dan patung-patung. Ini memberikan indikasi bahwa tradisi pembuatan benda keramik dengan teknologi sederhana telah lama berlangsung. Artefak lainnya di gambarkan pada relief candi Borobudur yang menunjukkan motif wanita yang sedang mengambil air dari kolam dengan periuk bulat dan kendi serta memasak dengan kuali. Sedangkan relief candi Prambanan dan candi Penataran (Blitar) melukiskan jambangan bunga dengan hiasan suluran dan bunga-bungaan. Peninggalan ini juga menggambarkan akan adanya
kegiatan pembuatan keramik rakyat di pedesaan dan banyak hubungannya dengan penemuan kebutuhan akan wadah. Keramik rakyat ini dari zaman ke zaman berkembang secara evolusioner. Demikian pula dengan bentuk, teknik pengolahan maupun pembakarannya, pembakaran dilakukan hanya dengan menggunakan daun-daun atau ranting-ranting pohon yang telah kering. Mereka lebih banyak memikirkan peralatan yang ada hubungannya dengan
rumah tangga. Untuk keperluan tersebut dibuatlah benda gerabah dari tanah liat kemudian dibentuk dan setelah kering dibakar dengan pembakaran sederhana. Penemuan keramik merangsang kreativitas manusia untuk menciptakan berbagai macam benda keramik yang di buat dari bahan tersebut. Pada perkembangan selanjutnya berbagai faktor turut menentukan
kemajuan keramik diberbagai daerah. Faktor-faktor tersebut mempengaruhi kemajuan keramik, mulai dari faktor keperluan hidup, persedian bahan baku sampai kemajuan teknik pembakaran. Dari faktor-faktor tersebut, faktor kebutuhan atau keperluan hidup yang merupakan pengaruh yang dominan, sebagai contoh: negeri China. Secara pasti sangatlah sulit untuk dikatakan daerah mana yang mula-mula yang merupakan pusat perkembangan keramik di Indonesia. Dari segi teknik pembuatannya benda-benda keramik yang oleh para ahli sejarah disebut “paddle and anvil technique” atau teknik tatap batu, suatu teknik pembuatan keramik tradisional yang saat ini masih dipergunakan di daerah-dareah di Indonesia. Meninjau hasil karya keramik dari beberapa daerah di Indonesia sangat menarik karena terasa ada suatu karakteristik sangat khas yang menjiwai benda-benda tersebut. Daerah tersebut antara lian Kalimantan dengan keramik Singkawang yang menghasilkan guci-guci besar. Daerah ini
menghasilkan benda keramik dengan teknologi pembakaran tinggi mulai abad XIX. Singkawang merupakan daerah migrasi orang-orang China Hokkian, yang banyak keahliannya membuat guci. Sementara masyarakat tradisional tetap melakukan aktivitas untuk membuat gerabah tradisional untuk memenuhi kebutuhan hidup dengan kekuatan apa adanya.

keramik jepang

Jepang tembikar dan porselin

Oribe ware dish with lid, early 17th century Oribe ware piring dengan tutupnya, awal abad ke-17

Nabeshima ware dish, ca. Ware Nabeshima hidangan, ca. 1690-1710 1690-1710

Japanese pottery and porcelain (陶芸, Jp. tōgei; also 焼きもの, Jp. yakimono), one of the country’s oldest art forms, dates back to the Neolithic period. Jepang tembikar dan porselen (陶芸, Jp. Tōgei; juga焼きもの, Jp. Yakimono), salah satu negara tertua bentuk seni, tanggal kembali ke Neolitikum periode. Kilns have produced earthenware , pottery , stoneware , glazed pottery, glazed stoneware, porcelain , blue-and-white ware , and enamelware . Kiln telah menghasilkan tembikar, tembikar, periuk, mengkilap tembikar, periuk berkaca-kaca, porselin, biru-putih ware, dan Enamelware.

//

Pendahuluan

Japanese ceramic history records many distinguished potter names, and some were artist-potters, eg, Honami Koetsu , Ogata Kenzan , and Aoki Mokubei [ 1 ] . Keramik Jepang banyak catatan sejarah nama potter dibedakan, dan beberapa seniman-tembikar, misalnya, Honami Koetsu, Ogata Kenzan, dan Aoki Mokubei [1]. On the other hand, Chinese ceramic history has seldom recorded potters, except among Yixing ware. Di sisi lain, keramik cina sejarah jarang mencatat tembikar, kecuali di antara Yixing ware. Japanese anonymous kilns also have flourished through the ages, and their influence weighs with that of the potters. Kiln anonim Jepang juga telah berkembang selama berabad-abad, dan pengaruh mereka dengan yang berat dari para pembuat tembikar. Another characteristically Japanese aspect of the art is the continuing popularity of unglazed high-fired stoneware even after porcelain became popular [ 2 ] . Khas jepang lain aspek seni popularitas yang terus tinggi dipecat unglazed periuk bahkan setelah porselen menjadi populer [2]. Since 4th century, Japanese pottery and porcelain was often influenced by the Chinese, sometimes through Korean pottery . Sejak abad ke-4, tembikar dan porselen Jepang sering dipengaruhi oleh orang Cina, kadang-kadang melalui Korea tembikar. Japan transformed and translated the Chinese the prototype into a uniquely Japanese creation, and the result was distinctly Japanese in character [ 3 ] . Jepang diubah dan menerjemahkan prototipe cina ke Jepang yang unik penciptaan, dan hasilnya adalah di Jepang jelas karakter [3]. In the 20th century, a ceramics industry (eg, Noritake and Toto Ltd. ) grew up. Pada abad ke-20, sebuah industri keramik (misalnya, Noritake dan Toto Ltd) tumbuh dewasa.

Riwayat untuk abad ke-19 [4]

Jomon vessel with flame-like ornamentation, 3000–4000 BC Jomon kapal dengan api-seperti ornamen, 3000-4000 SM

Shigaraki jar, 16th century Shigaraki jar, abad ke-16

Export Imari, ca. Ekspor Imari, ca. 1700–1750 1700-1750

Nonomura Ninsei, pine pattern tea jar, ca. Nonomura Ninsei, pola pinus teh jar, ca. 1660–70 1660-70

Kameyama porcelain, Dutch ship motif, 1800s Kameyama porselen, motif kapal Belanda, tahun 1800-an

In the Neolithic period (ca. 11th millennium BC), the earliest soft earthenware was made, and in the 6th millennium BC appeared typical coil-made Jōmon ware appeared, decorated with hand-impressed rope patterns (early Jōmon period ). Dalam periode Neolitik (ca. 11 milenium SM), tanah liat lunak yang paling awal dibuat, dan di milenium ke-6 SM muncul khas koil buatan ware Jomon muncul, dihiasi dengan tali terkesan tangan-pola (awal Zaman Jomon). Jōmon ware developed a flamboyant style at its height and simplified itself in the later Jōmon period . Jomon ware mengembangkan gaya flamboyan pada puncaknya dan disederhanakan sendiri di akhir Zaman Jomon. The pottery was molded of clay rope and baked in an open fire. Tembikar dari tanah liat dibentuk tali dan dibakar dalam api terbuka. In about 4th–3rd century BC, Yayoi style earthenware appeared, which had a simple pattern or no pattern. Pada sekitar abad ke-3-4 SM, Yayoi tembikar gaya muncul, yang memiliki pola sederhana atau tidak ada pola. Jōmon, Yayoi, and later Haji ware shared the baking process but had different styles of design. Jomon, Yayoi, dan kemudian Haji ware berbagi proses baking tapi gaya desain yang berbeda.

In the 3rd to 4th centuries AD, the anagama kiln , a roofed-tunnel kiln on a hillside, and the potter’s wheel appeared, probably brought by southern Korea immigrant potters. Dalam ke-3 hingga 4 abad AD, anagama kiln, sebuah terowongan beratap-kiln di sisi bukit, dan roda tembikar muncul, mungkin dibawa oleh imigran Korea selatan tembikar. The anagama kiln could produce a stoneware, Sue ware , fired at high temperatures of over 1000℃, sometimes embellished with accidental natural ash glaze. Yang anagama kiln dapat menghasilkan sebuah periuk, Sue ware, dipecat pada temperatur tinggi lebih dari 1000 ℃, kadang-kadang dibumbui dengan disengaja abu alam Glaze. Contemporary Haji ware and Haniwa funerary objects were earthenware like Yayoi . Kontemporer Haji ware dan penguburan Haniwa benda itu gerabah seperti Yayoi.

Although a three-color lead glaze technique was introduced to Japan from the Tang Dynasty of China in the 8th century, official kilns produced only simple green lead glaze for temples in the Heian period , around 800–1200 AD. Meskipun warna tiga teknik glasir timah diperkenalkan ke Jepang dari Dinasti Tang dari Cina di abad ke-8, resmi diproduksi hanya kiln memimpin hijau sederhana Glaze untuk kuil-kuil di periode Heian, sekitar 800-1.200 Masehi. Until the 17th century, unglazed stoneware was popular for the heavy-duty daily requirements of a largely agrarian society; funerary jars, storage jars, and a variety of kitchen pots typify the bulk of the production. Sampai abad ke-17, periuk unglazed populer untuk tugas yang berat-kebutuhan sehari-hari masyarakat agraris yang sebagian besar; penguburan kaleng, stoples, dan berbagai pot dapur melambangkan sebagian besar produksi. Some of the kilns improved their technology and are called the “Six Old Kilns”: Shigaraki( Shigaraki ware ), Tamba, Bizen, Tokoname, Echizen, and Seto. Beberapa kiln peningkatan teknologi dan mereka disebut sebagai “Enam Lama kiln”: Shigaraki (Shigaraki ware), Tamba, Bizen, Tokoname, Echizen, dan Seto. Among them, Seto kiln in the Aichi prefecture had a glaze technique. Di antara mereka, Seto kiln di prefektur Aichi memiliki teknik Glaze. According to legend, Katō Shirozaemon Kagemasa (also known as Tōshirō) studied ceramic techniques in China and brought high-fired glazed ceramic to Seto in 1223. Menurut legenda, Kato Shirozaemon Kagemasa (juga dikenal sebagai Toushirou) mempelajari teknik keramik di Cina dan membawa tinggi dipecat keramik mengkilap Seto pada tahun 1223. Seto kiln primarily imitated Chinese ceramics as a substitute for the Chinese product. Seto ditiru Cina kiln keramik terutama sebagai pengganti produk Cina. It developed various glazes: ash, iron black, feldspar white, and copper green. Ini mengembangkan berbagai glazes: abu, besi hitam, feldspar putih, dan tembaga hijau. The wares were so widely used that Seto-mono (“product of Seto”) became the generic term for ceramics in Japan. Barang dagangan itu begitu luas digunakan bahwa Seto-mono ( “produk Seto”) menjadi istilah generik untuk keramik di Jepang. Seto kiln also produced unglazed stoneware. Seto kiln juga diproduksi unglazed periuk. In late 16th century, many Seto potters moved to Mino province in the Gifu Prefecture fleeing the civil wars, where they produced glazed pottery: Yellow Seto ( Ki-Seto ), Shino, Black Seto ( Seto-Guro ), and Oribe ware . Pada akhir abad ke-16, banyak Seto Mino tembikar pindah ke provinsi di Prefektur Gifu melarikan diri dari perang saudara, di mana mereka memproduksi kaca keramik: Kuning Seto (Ki-Seto), Shino, Black Seto (Seto-Guro), dan Oribe ware.

From the middle of the 11th century to the 16th century, Japan imported much Chinese celadon , white porcelain, and blue-and-white ware. Dari pertengahan abad ke-11 ke abad 16, Jepang mengimpor banyak cina celadon, porselen putih, dan biru-putih ware. Japan also imported some Korean pottery and Thai and Vietnamese ceramics. Jepang juga mengimpor beberapa tembikar Korea dan Thailand dan Vietnam keramik. These Chinese ceramics were regarded as high-class items, which the upper classes used in the tea ceremony. Keramik cina ini dianggap sebagai barang kelas tinggi, yang kelas atas yang digunakan dalam upacara minum teh. The Japanese ordered ceramics custom-designed for Japanese tastes from Chinese kilns. Memerintahkan Jepang keramik yang dirancang khusus untuk Jepang selera dari Cina kiln. In late 16th century, leading tea masters changed the style and favored the simpler Korean tea bowls and domestic ware over the Chinese. Pada akhir abad ke-16, ahli teh terkemuka mengubah gaya dan disukai lebih sederhana dan mangkuk-mangkuk teh Korea ware domestik di Cina. Patronized by the tea master Sen no Rikyū , the Raku family supplied glazed earthenware tea bowls. Dilindungi oleh master teh Sen tidak Rikyū, yang Raku diberikan keluarga mangkuk teh gerabah berkaca-kaca. Mino, Bizen, Shigaraki( Shigaraki ware ), Iga (similar to Shigaraki), and other domestic kilns also supplied tea utensils. Mino, Bizen, Shigaraki (Shigaraki ware), Iga (mirip dengan Shigaraki), dan pembakaran rumah tangga lainnya juga menyediakan alat-alat teh. Artist-potter Honami Kōetsu made several teabowls as his masterpieces. Artis-potter Honami Koetsu membuat beberapa teabowls sebagai mahakarya. The Japanese overlord Toyotomi Hideyoshi ‘s Korean campaigns of the 1590s attempting to conquer China were dubbed the “Ceramic Wars” [ citation needed ] because the emigration and abduction of Korean potters appeared to be a major factor in the wars. Penguasa Jepang, Toyotomi Hideyoshi ‘s kampanye Korea dari 1590-an berusaha untuk menaklukkan cina yang dijuluki “Perang Keramik” [rujukan?] Karena emigrasi dan penculikan Korea tembikar tampaknya menjadi faktor utama dalam perang. These potters established the Satsuma, Hagi, Karatsu, Takatori, Agano and Arita kilns. Tembikar ini mendirikan Satsuma, Hagi, Karatsu, Takatori, Agano dan Arita kiln. One of them, Yi Sam-pyeong , discovered the raw material of porcelain in Arita and produced first true porcelain in Japan. Salah satu dari mereka, Yi Sam-pyeong, menemukan bahan baku dalam Arita porselen dan porselen sejati pertama yang diproduksi di Jepang.

In the 1640s, rebellions in China and wars between the Ming dynasty and the Manchus damaged many kilns, and in 1656–1684 the Qing Dynasty government stopped trade. Pada 1640-an, pemberontakan di Cina dan perang antara dinasti Ming dan Manchu rusak banyak kiln, dan dalam pada 1656-1684 Dinasti Qing pemerintah menghentikan perdagangan. Chinese potter refugees offered the Arita kilns more-refined porcelain technique and enamel glaze methods. Pengungsi potter Cina menawarkan kiln Arita porselen lebih-halus Glaze enamel teknik dan metode. In 1650, the Dutch East India Company looked for porcelain for Europe in Japan [ 5 ] . Pada tahun 1650, Hindia Belanda Perusahaan mencari porselen untuk Eropa di Jepang [5]. At that time, the Arita kilns like Kakiemon kiln could supply enough quality porcelain to the Dutch East India Company. Pada saat itu, Arita kiln seperti Kakiemon kiln kualitas cukup pasokan bisa porselen ke Perusahaan India Timur Belanda. In 1659–1757, the Arita kilns exported enormous quantities of porcelain to Europe and Asia. Pada 1659-1757, para Arita diekspor pembakaran porselen dalam jumlah sangat besar ke Eropa dan Asia. China kilns and Europe kilns imitated them [ 6 ] . the Arita kilns also supplied domestic utensils such as the so-called Ko-Kutani enamelware [ 7 ] . Cina kiln pembakaran dan Eropa ditiru mereka [6]. Kiln yang Arita juga menyediakan peralatan rumah tangga seperti apa yang disebut Ko-Kutani Enamelware [7]. In 1675, the local Nabeshima family who ruled Arita established an official kiln to make top-quality enamelware porcelain for the upper classes in Japan, which came to be called Nabeshima ware . Pada 1675, lokal Nabeshima Arita keluarga yang memerintah mendirikan tempat pembakaran resmi untuk membuat atas porselen Enamelware berkualitas untuk kelas atas di Jepang, yang kemudian disebut Nabeshima ware. After 1757, the Arita kilns filled domestic needs only. Setelah 1757, para Arita kiln hanya dipenuhi kebutuhan domestik. Because Imari was the shipping port, the porcelain, both export and domestic, is called Ko-Imari (old Imari). Karena Imari adalah pelabuhan pengiriman, porselen, baik ekspor dan domestik, disebut Ko-Imari (Imari tua).

In 17th century, in Kyoto, then Japan’s cultural capital, kilns produced lead-glazed pottery like the pottery of southern China. Pada abad ke-17, di Kyoto, maka modal budaya Jepang, pembakaran menghasilkan tembikar kaca timah seperti tembikar dari Cina bagian selatan. Among them, potter Nonomura Ninsei invented an overglazed enamel method and improved refined Japanese-style design under temple patronage. Di antara mereka, potter Nonomura Ninsei menemukan sebuah metode enamel overglazed dan ditingkatkan halus desain gaya Jepang di bawah perlindungan candi. His disciple Ogata Kenzan produced more personal pottery and took Kyōyaki (Kyoto ceramics) to new heights. Muridnya Ogata Kenzan tembikar menghasilkan lebih pribadi dan mengambil Kyōyaki (Kyoto keramik) ke ketinggian baru. Their works were the model for later Kyōyaki. Karya-karya mereka adalah model untuk kemudian Kyōyaki. Although porcelain was introduced by Okuda Eisen in Kyōyaki, overglazed pottery still flourished. Aoki Mokubei , Ninami Dōhachi ( both disciples of Okuda Eisen) and Eiraku Hozen expanded the repertory of Kyōyaki. Meskipun porselen diperkenalkan oleh Okuda Eisen di Kyōyaki, tembikar overglazed masih berkembang. Aoki Mokubei, Ninami Dōhachi (keduanya murid Okuda Eisen) dan Eiraku Hozen memperluas perbendaharaan dari Kyōyaki.

In the late 18th to early 19th century, the raw material of porcelain was discovered in other areas of Japan (eg, Amakusa ) and was traded domestically, and potters moved more freely. Pada akhir 18 sampai awal abad ke-19, bahan mentah porselen ditemukan di daerah lain di Jepang (misalnya, Amakusa) dan diperdagangkan di dalam negeri, dan tembikar bergerak lebih bebas. Local lords and merchants established many new kilns (eg, Kameyama kiln and Tobe kiln) for economic profit, and old kilns such as Seto restarted as porcelain kilns. Bangsawan dan pedagang lokal didirikan banyak kiln baru (misalnya, Kameyama kiln dan Tobe kiln) untuk keuntungan ekonomi, dan pembakaran tua seperti Seto ulang seperti porselen kiln. These many kilns are called “New Kilns” and popularized porcelain for the common people in Japan with the Arita kiln. Ini banyak kiln disebut “New kiln” dan dipopulerkan porselen untuk masyarakat umum di Jepang dengan Arita kiln.

20th Century untuk hari ini

Interest in the humble art of the village potter was revived in a folk movement of the 1920s by such master potters as Shoji Hamada and Kawai Kajiro . Minat seni yang rendah hati tembikar desa dihidupkan kembali dalam gerakan rakyat tahun 1920-an oleh master seperti tembikar sebagai Shoji Hamada dan Kawai Kajiro. These artists studied traditional glazing techniques to preserve native wares in danger of disappearing. Para seniman ini mempelajari teknik glazur tradisional untuk menjaga barang-barang asli dalam bahaya menghilang. A number of institutions came under the aegis of the Cultural Properties Protection Division . Sejumlah lembaga berada di bawah perlindungan dari Divisi Perlindungan Properti Budaya. The kilns at Tamba , overlooking Kobe , continued to produce the daily wares used in the Tokugawa period , while adding modern shapes. The kiln di Tamba, menghadap Kobe, terus memproduksi barang-barang sehari-hari yang digunakan dalam periode Tokugawa, sambil menambahkan bentuk modern. Most of the village wares were made anonymously by local potters for utilitarian purposes. Sebagian besar barang-barang desa dilakukan secara anonim oleh tembikar lokal untuk tujuan utilitarian. Local styles, whether native or imported, tended to be continued without alteration into the present. Lokal gaya, apakah asli atau diimpor, cenderung akan dilanjutkan tanpa perubahan ke masa kini. In Kyūshū, kilns set up by Korean potters in the 16th century, such as at Koishibara and its offshoot at Onta , perpetuated 16th-century Korean peasant wares. Di Kyushu, kiln yang didirikan oleh Korea tembikar di abad ke-16, seperti pada Koishibara dan cabang di Onta, mengabadikan abad ke-16 petani Korea dagangannya. In Okinawa , the production of village ware continued under several leading masters, with Kaneshiro Jiro honored as a mukei bunkazai . Di Okinawa, produksi ware desa terus di bawah beberapa guru terkemuka, dengan Jiro Kaneshiro dihormati sebagai mukei bunkazai.

The modern masters of the traditional kilns still bring the ancient formulas in pottery and porcelain to new heights of achievement at Shiga , Ige , Karatsu , Hagi , and Bizen . Yamamoto Masao of Bizen and Miwa Kyusetsu of Hagi were designated living cultural treasures ( mukei bunkazai無形文化財). Empu modern kiln tradisional masih membawa formula kuno di tembikar dan porselen ke ketinggian baru prestasi di Shiga, IgE, Karatsu, Hagi, dan Bizen. Yamamoto Masao Bizen dan Miwa Kyusetsu dari Hagi adalah kekayaan budaya hidup yang ditunjuk (mukei bunkazai无形文化财). Only a half-dozen potters had been so honored by 1989, either as representatives of famous kiln wares or as creators of superlative techniques in glazing or decoration; two groups were designated for preserving the wares of distinguished ancient kilns. Hanya setengah lusin tembikar telah begitu dihormati oleh 1989, baik sebagai wakil-wakil dari kiln terkenal barang dagangan atau sebagai pencipta teknik superlatif di kaca atau dekorasi; dua kelompok yang ditujukan untuk menjaga barang-barang kuno terhormat kiln.

In the old capital of Kyoto , the Raku family continued to produce the rough tea bowls that had so delighted Hideyoshi. Di ibu kota lama Kyoto, yang Raku terus keluarga menghasilkan kasar mangkuk teh yang telah begitu senang Hideyoshi. At Mino , potters continued to reconstruct the classic formulas of Momoyama-era Seto-type tea wares of Mino, such as the Oribe ware copper-green glaze and Shino ware’s prized milky glaze. Pada Mino, tembikar terus merekonstruksi rumusan klasik era Momoyama Seto-jenis barang teh Mino, seperti ware Oribe glasir hijau tembaga dan Shino ware’s dihargai susu Glaze. Artist potters experimented endlessly at the Kyoto and Tokyo arts universities to recreate traditional porcelain and its decorations under such ceramic teachers as Fujimoto Yoshimichi , a mukei bunkazai . Seniman tembikar bereksperimen tanpa henti di Kyoto dan Tokyo seni tradisional universitas untuk menciptakan kembali porselen dan keramik dekorasi di bawah seperti guru sebagai Yoshimichi Fujimoto, sebuah mukei bunkazai. Ancient porcelain kilns around Arita in Kyūshū were still maintained by the lineage of Sakaida Kakiemon XIV and Imaizumi Imaemon XIII , hereditary porcelain makers to the Nabeshima clan ; both were heads of groups designated mukei bunkazai (see Kakiemon and Imari porcelain ). Porselen kuno pembakaran sekitar Arita di Kyushu masih dikelola oleh keturunan Sakaida Kakiemon XIV dan Imaizumi Imaemon XIII, turun-temurun para pembuat porselen ke klan Nabeshima; kedua adalah kelompok yang ditunjuk kepala mukei bunkazai (lihat Kakiemon dan Imari porselen).

In contrast, by the end of the 1980s, many master potters no longer worked at major or ancient kilns but were making classic wares in various parts of Japan. Sebaliknya, pada akhir 1980-an, banyak ahli tembikar tidak lagi bekerja di besar atau pembakaran kuno tetapi membuat barang-barang klasik di berbagai daerah di Jepang. In Tokyo, a notable example is Tsuji Seimei , who brought his clay from Shiga but potted in the Tokyo area. Di Tokyo, sebuah contoh terkenal adalah Tsuji Seimei, yang membawa tanah liat dari Shiga tetapi pot di daerah Tokyo. A number of artists were engaged in reconstructing Chinese styles of decoration or glazes, especially the blue-green celadon and the watery-green qingbai . Sejumlah seniman yang terlibat dalam merekonstruksikan dekorasi gaya Cina atau glazes, terutama biru-hijau celadon dan berair hijau qingbai. One of the most beloved Chinese glazes in Japan is the chocolate-brown tenmoku glaze that covered the peasant tea bowls brought back from southern Song China (in the twelfth and thirteenth centuries) by Zen monks. Salah satu yang paling dicintai glazes Cina di Jepang adalah cokelat-cokelat tenmoku glasir yang menutupi mangkuk-mangkuk teh petani dibawa kembali dari selatan Song cina (di abad kedua belas dan ketiga belas) oleh Zen biarawan. For their Japanese users, these chocolate-brown wares embodied the Zen aesthetic of wabi (rustic simplicity). Bagi mereka pengguna Jepang, cokelat-cokelat ini diwujudkan barang dagangan Zen estetika wabi (kesederhanaan pedesaan). In the United States, a notable example of the use of tenmoku glazes may be found in the innovative crystalline pots thrown by Japanese-born artist Hideaki Miyamura . Di Amerika Serikat, sebuah contoh penting dari penggunaan tenmoku glazes dapat ditemuk